Tuesday, May 1, 2012

Inflasi April Tinggi, menanti kebijakan Pembatasan BBM


Badan pusat statistik melaporkan angka inflasi April 2012 mencapai 0,21 persen. Angka tertinggi untuk bulan yang sama sejak 2009. Hasil perolehan BPS, inflasi 2009 hanya sebesar 0,31 persen (deflasi), inflasi 2010 sebesar 0,15 persen, dan inflasi 2011 sebesar -0,31 persen (deflasi).

Kepala BPS Suryamin menyebutkan, kenaikan inflasi disebabkan oleh tarik ulur kebijakan pengendalian harga bahan bakar minyak bersubsidi.  “Dampak psikologis itu masih ada”. Direktur Statistik barang dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo mengungkapkan, pedagang mempersiapkan stok barang yang banyak untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM bersubsidi.

Setidaknya ada enam komoditi yang mengerek inflasi pada April 2012. Antara lain bawang putih/merah dan gula pasir. Kenaikan harga disebabkan oleh berkurangnya pasokan barang dipasar.

Sekretaris komite Ekonomi Nasional Aviliani menjelaskan Komite merekomendasikan agar pemerintah tidak menaikan harga BBM bersubsidi hingga akhir tahun. Rekomendasi ini ditujukan untuk memberikan kepastian mengenai harga BBM kepada masyarakat maupun  kepada investor, sekaligus untuk menghidari aksi spekulasi. “kami melihat keputusan sidang paripurna DPR memberikan ketidakpastian, investor mempertanyakan , masyarkat sehingga fluktuasi harga tidak terelakan.

Untuk mengembalikan harga, Komite Ekonomi merekomendasikan agar harga BBM bersubsidi tidak dinaikan, tapi BBM bersubsidi dibatasi. Dengan adanya hal tersebut merupakan kepastian bagi para investor untuk merumuskan aneka biaya. Sebaliknya, dengan terus dibayangi ketidak kepastian pada kebijakan mana yang akan diambil oleh pemerintah, inflasi akan tetap tinggi walau harga BBM belum dinaikan.                                        

No comments:

Post a Comment